Sunday, May 12, 2013

Pantai Petanahan, Pantai Indah Dan Menawan

Pantai petanahan merupakan pantai yang tidak asing lagi bagi masyarakat kota kebumen. Pantai ini adalah pantai tahunan bagi masyarakatnya. Saat Musim Libur atau Lebaran tiba pantai ini ramai akan pengunjung, tidak hanya dari masyarakat sekitar Kota Kebumen yang berkunjung, melainkan banyak dari luar Kota Kebumen yang datang ke Pantai Petanahan. 
Pantai Petanahan terletak di 17km arah barat daya dari pusat Kota Kebumen.Pantai petanahan memiliki daya tarik tersendiri dari par pengunjungnya, pantai yang sangat luas ini memiliki ombak dan pasir yang indah. Di Pantai Petanahan juga terdapat tempat yang didirikan oleh pemerinth setempat untuk berteduh. Pohon yang ada disana juga sangat indah, terdapat banyak pohon cemara dan pohon pandan yang memesona.
Pengunjung yang datang kesana dapat memilih jalur menuju pantai dengan banyak pilihan. Karena tempatnya yang luas, maka disediakan berbagai tempat banyak yang pada akhirnya menyatu di satu pantai yang panjang dan indah. Jangan kawatir untuk masalah perut, disepanjang pantai banyak berjualan makanan dan minuman, jadi pengunjung tidak akan kelaparan tentunya. 
Pengunjung dapat dengan leluasa bermain dan bersantai sambil menikmati debur ombak serta emilir angin yang membuat anda merasa puas. 
Nah untuk para wisatawan yang hobi berwisata pantai tidak ada salahnya untuk mengunjungi Pantai Petanahan sebagai salah satu tempat tujuan anda. Selamat berlibur... 
Read More

Jembangan Wisata Alam (JWA)


       Jembangan Wisata Alam (JWA) merupakan salah satu kawasan objek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan objek wisata ini terbilang masih baru, didirikan pada tahun 2011 oleh Bupati Kebumen yang baru terpilih yaitu H.Buyar Winarso, S.E. Kawasan objek wisata JWA menawarkan pemandangan telaga hijau dengan hutan hijau bersisian di sampingnya, di bagian ujung telaga ini dimanfaatkan sebagai bendungan air yaitu bendungan Pejengkolan, terusan pintu air bagian timur dari waduk Wadaslintang yang berada di Kabupaten Kebumen. Untuk menuju kawasan JWA ini di pintu masuk anda akan dikenai biaya tiket Rp 3000 dan biaya parkir Rp 2000/motor.
 
Site Utama
Di dalam kawasan JWA ini terdapat tiga site utama yang dapat dinikmati oleh pengunjung yaitu Telaga hijau yang bersisian dengan hutan yang masih alami, Waduk Pejengkolan dan Jembatan Gantung.
Untuk berkeliling menikmati telaga Jembangan yang bersisisan dengan hutan hijau dapat menggunakan wahana perahu air. Sementara untuk menuju jembatan waduk Pejengkolan dan Jembatan gantung anda sama sekali tidak dikenakan biaya. Namun letak kedua objek ini agak jauh dari kawasan utama telaga. Jembatan Waduk Pejengkolan terletak di sisi kanan pintu masuk sementara Jembatan Gantung terletak di sebelah kiri pintu masuk. Sebenarnya anda dapat menikmati kedua objek ini tanpa repot-repot menuju lokasinya langsung dengan menggunakan perahu mesin, namun tentu akan dikenai biaya tambahan jika anda meminta mengunjungi kedua jembatan ini karena lokasinya yang memang cukup jauh dari dermaga tempat perahu mesin bersandar. Namun kedua jembatan ini tidak kalah menariknya, Jembatan Pejengkolan merupakan jembatan permanen dari beton dan sudah beraspal dengan panjang kurang lebih 500 meter, sementara Jembatan Gantung merupakan jembatan semi permanen dengan bangunan beton besi di kedua ujungnya dan jembatannya itu sendiri terbuat dari papan kayu yang digantung.
Wahana
Selain menawarkan pemandangan telaga hijau yang luas, di kawasan JWA ini juga menawarkan berbagai wahana untuk belajar atau permainan anak-anak seperti Jembangan Fantasy Zoo, Wahana permainan anak dan Perahu air.
Jembangan Fantasy Zoo merupakan wahana belajar satwa bagi anak. Di wahana ini tersedia berbagai satwa yang sengaja didatangkan dari Kabupaten seperti aneka burung, gajah, kera dan lain sebagainya. Kebanyakan yang mengunjungi wahana ini merupakan siswa-siswi pelajar tingkat sekolah dasar yang datang berombongan didampingi oleh guru-guru mereka. Tiket masuk menuju wahana ini Rp 5000/orang.
Wahana permainan anak yang tersedia layaknya wahana permainan untuk anak-anak pada umumnya seperti perosotan,ayunan, wahana putaran untuk anak dan lain sebagainya. Tiket masuk wahana ini berkisar Rp 3000-5000/orang.
Perahu air ini dinikmati pengunjung untuk berkeliling menyusuri luasnya telaga Jembangan. Jenis perahu air ini terdiri dari dua macam yaitu  perahu air unitkecil menggunakan tenaga manusia yaitu dengan gowes layaknya sepeda, dan perahu air unit besar berbentuk naga yang menggunakan tenaga mesin untuk mengoperasikannya. Perahu unit kecil disewakan dengan harga per unit Rp 15.000 untuk kapasitas dua orang/30 menit. Sementara Perahu unit besar disewakan dengan harga Rp 15.000/orang. Perahu unit besar ini enak dinikamti jika anda datang secara berombongan.
Aksesibilitas
Kawasan JWA tereletak di desa Jembangan, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Kecamatan Poncowarno ini merupakan Kecamatan yang terletak pada dataran tinggi. Prasara menuju lokasi kawasan wisata ini sudah sangat mendukung, yaitu jalan mulus beraspal hitam mengkilap, jalan berkelok-kelok mengikuti topografi yang ada. Namun prasarana yang ada tidak didukung dengan sarana transportasi yang baik. Tidak ada sarana transportasi umum untuk menuju lokasi kawasan JWA ini. Kawasan JWA hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi berjarak kurang lebih 20 Km dari Kebumen Kota. Dengan kata lain lokasi ini aksesibilitasnya masih rendah. Hal ini wajar, jika pengunjung kawasan JWA ini masih terbilang jarang. Padahal publikasi dari dinas pariwisatanya sendiri sudah dilakukan secara gencar.
Geografi Pariwisata
Dalam studi Geografi Pariwisata, selain objek yang menarik (Site Attraction), pelayanan dan fasilitas yang tersedia, yang dapat mendukung majunya industri pariwisata adalah kemudahan aksesibilitas dan didukung oleh promosi. Aksesibilitas ini berhubungan dengan letak geografis dan kemudahan jangkauan transportasi umum menuju lokasi wisata. Oleh karena itu pemerintah dan dinas terkait (Dinas Pariwisata) harus menyediakan sarana transportasi publik menuju kawasan JWA ini agar bisa diakses oleh orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Apalagi Kawasan JWA merupakan ikon terbaru dari Kabupaten Kebumen. Harapan kedepannya dengan dibukanya kawasan JWA sebagai objek wisata baru, dapat mengenalkan potensi Kabupaten Kebumen kepada khalayak umum sehingga meningkatkan pendapatan daerah dari sektor wisata.
Read More

Pemandian Air Panas Krakal

    Obyek Wisata Di Kabupaten Kebumen, Cukup Banyak Aneka Ragamnya. Ada Obwis (Obyek Wisata) Pantai Atau Laut, Gua, Wadhuk Atau Bendungan, Wisata Kebumian Dan Yang Terakhir Adalah Obwis Pemandian Air Panas Krakal. Obwis Ini Bisa Dikatakan Sebagai Wisata Medis, Karena Orang Yang Datang Ke Tempat Tersebut Adalah Untuk Berobat.Penyakit Yang Bisa Diobati Di Sini Memang Khusus, Yakni Penyakit Kulit. Tetapi, Kenapa Harus Mengobati Penyakit Kulit Saja Kok Harus Di PAP (Pemandian Air Panas), Ada Baiknya Kalau Menyimak Sedikit Legenda Yang Terjadi Di Obwis Tersebut.Menurut Cerita Orang Tua, Sekalipun Bukan Cerita Baku, Tetapi Di Tempat Tersebut Pernah Ada Suatu Keajaiban. Konon, Ada Seorang Dari Keluarga Kerajaan Dari Kartosuro, Namun Siapa Nama Yang Menderita Penyakit Kulit. Sudah Banyak Tabib Dan Orang Pintar Lain Yang Dimintai Tolong, Tetapi Semuanya Tak Bisa Menyembuhkan. Menurut Cerita Orang Tua, Sekalipun Bukan Cerita Baku, Tetapi Di Tempat Tersebut Pernah Ada Suatu Keajaiban. Konon, Ada Seorang Dari Keluarga Kerajaan Dari Kartosuro, Namun Siapa Nama Yang Menderita Penyakit Kulit. Sudah Banyak Tabib Dan Orang Pintar Lain Yang Dimintai Tolong, Tetapi Semuanya Tak Bisa Menyembuhkan. Tentu Saja, Keluarga Raja Tersebut Menjadi Bingung. Akhirnya Diputuskan Untuk Melakukan Semedi Atau Bertapa. Dalam Keheningan Semedinya Ini Terdengar Lamat-Lamat Ada Suara Yang Tak Tahu Dari Mana Asal Suara Tersebut. Namun Suara Tersebut Sangat Jelas, Bahwa Penyakit Kulit Yang Diderita Keluarga Keraton Tersebut Bisa Disembuhkan. Syaratnya, Orang Yang Dimaksud Harus Dimandikan Di Sebuah Sungan Yang Katanya Diberi Nama Kali Asin. Namun Dalam Ilham Atau Wisik Tersebut Tak Dijelaskan Dimana Tempatnya. Untuk Keperluan Tersebut, Pangeran Juru Mendapat Perintah Untuk Melacak Tempat Yang Dimaksud, Yakni Tempat Penyembuhan Penyakit Kulit Yang Diderita Keluarga Keraton Kartosuro.
Read More

CEPETAN / CEPETAN ALAS, Kesenian Tradisional Asli Karanggayam – Kebumen


Kesenian Tradisional Cepetan / Cepetan Alas, Kesenian asli Karanggayam - Kebumen       Kebumen memiliki bermacam-macam kesenian tradisional asli. Selain Ebleg, Jemblung, Jamjaneng, dan Menthiet, kesenian tradisional asli Kebumen lainnya ialah Cepetan/Cepetan Alas. Kesenian Cepetan merupakan kesenian tradisional bergenre Sendratari. Kesenian ini berasal dari kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. Cepetan Alas berasal dari dua kata : Cepetan (bahasa Jawa; kata dasarnya adalah Cepet, nama salah satu jenis mahluk halus di Jawa) dan Alas (bahasa Jawa yang berarti Hutan).
Kesenian tradisional Cepetan muncul di kecamatan Karanggayam pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Kesenian ini dipopulerkan oleh Lauhudan (?) seorang tokoh dari Karanggayam. Sendratari ini menggambarkan sebuah peristiwa pembukaan lahan pemukiman di daerah Karanggayam. Alkisah pada masa Jepang berkuasa di Indonesia, rakyat mengalami penderitaan baik sandang, pangan, dan papan yang luar biasa. Hal ini dialami juga oleh masyarakat Karanggayam. Selain itu, bencana (pageblug/musibah) berupa penyakit yang merenggut nyawa pun tiap hari melanda. Pertanian tidak bisa diandalkan. Akhirnya seorang sesepuh (tokoh masyarakat) di daerah tersebut memerintahkan untuk bersama – sama membuka hutan untuk lahan pemukiman dan pertanian baru. Hutan itu bernama Curug Bandung, sebuah hutan yang dikenal sangat angker. Cobaan pun datang ketika hutan Curug Bandung dibuka. Semua penghuni hutan, baik binatang dan mahluk halus (cepet, brekasakan, banaspati, raksasa dan lain – lain) harus mereka hadapi. Dengan perjuangan yang keras dan pihatin yang tinggi dari warga, sesepuh dan pemimpin pada saat itu, akhirnya cobaan, gangguan dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh penghuni hutan Curug Bandung pun bisa diatasi. tempat baru tersebut kemudian menjadi sebuah pemukiman yang makmur dan tentram. Pertanian warga juga berkembang baik. Penghuni hutan yang berhasil diatasi dengan daya prihatin (tirakat) akhirnya pindah ke tempat yang lain.
Kesenian tradisional Cepetan/Cepetan alas diperagakan oleh beberapa orang menggunakan kostum tradisional sederhana dilengkapi dengan topeng. Topeng – topeng yang dikenakan oleh masing-masing penari menggambarkan karakter. Sebuah topeng berkarakter baik (menggambarkan manusia), topeng lainnya menggambarkan simbol binatang (monyet, harimau, dan gajah) dan mahluk halus (cepet, bekasakan, banaspati, raksasa/buta dan lain – lain).
Kesenian tradisional Cepetan/Cepetan Alas diawali dengan musik pengiring gamelan sederhana dan bedug. Disusul keluarnya penari – penari bertopeng dan pengantar dalam sebuah cerita singkat menggunakan bahasa Jawa tentang asal mula kesenian tradisional Cepetan. Setelah cerita pengantar selesai, para penari melanjutkan tariannya dengan gerakan penggambaran dibukanya hutan Curug Bandung dan perkelahian antara sosok manusia dengan berbagai macam mahluk halus dan binatang penghuni hutan yang diakhiri dengan kemenangan tokoh manusia dan menyingkirnya para mahluk halus dan binatang hutan.
Tarian ini sepintas memiliki kemiripan alur cerita dengan sendratari Bambangan Cakil, yang menggambarkan perkelahian Arjuna melawan Buta Cakil yang menggodanya ketika ia bertapa, yang diakhiri dengan kemenangan Arjuna.
Read More

Pergelaran Wayang Golek Menak Kebumen

Wayang Golek Menak Kebumen adalah salah satu jenis wayang golek yang sumber ceritanya bersumber pada Hikayat Hamzah, Regester Menak baik yang berbentuk sekar maupun gancaran yang terdiri dari 24 episode. Cerita-cerita tersebut berkembang turun-temurun secara tradisi lisan. Cerita menak yang terdapat di Kebumen juga berkembang karena kreativitas dalang yang melakukan inovasi cerita dengan menambah lakon-lakon carangan sesuai dengan kemampuan dalang masing-masing, dengan demikian dimungkinkan ada perbedaan lakon dari dalang yang satu dengan dalang yang lain.

Wayang golek Menak Kebumen berbentuk tiga demensi. Bahan utama pembuatan kepala, badan, dan tangan dari kayu jaranan, weru, atau sengon laut. Busana bagian atas menggunakan kain beludru yang dihias manik-manik payet, dan benang emas, sedangkan busana bawah biasanya menggunakan kain bermotif batik. Sampur menggunakan kain jenis sifon, bisa juga menggunakan kain santung. Gapit atau tangkai wayang sebagai pegangan, sekaligus poros penggerak kepala tersebut dari bambu, kayu pinang, dan sejenisnya. Demikian juga tuding yang digunakan sebagai alat untuk menggerakkan tangan. Pewarnaan wayang menggunakan bahan baku dari cat tembok yang dicampur dengan lem kayu dan inti warna (pigmen).

Iringan wayang golek Kebumen menggunakan perangkat gamelan ageng slendro dan pelog yang terbagi menjadi 3 (tiga) pathet yaitu pathet nem, sanga, dan manyura. Gendhing-gendhing, dan sulukan wayang golek Kebumen mempunyai ciri garap khusus yang tidak sama dengan iringan wayang kulit terutama pada bentuk srepeg yang masing-masing berperan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh untuk mengiringi adegan perang tiap-tiap pathet mempunyai iringan masing-masing, demikian juga untuk mengiringi adegan perang putri. Gendhing yang digunakan untuk mengiringi adegan sama dengan iringan wayang kulit.

Pertunjukan wayang Golek Kebumen dipergelarkan sesuai dengan kebutuhan penanggap, dapat dilaksanakan satu hari satu malam, satu malam saja, dan 2 (dua) sampai 4 (empat) jam. Tetapi yang masih berlaku sampai saat ini dilaksanakan satu hari satu malam yaitu siang pukul 11.00 - 17. 00, dilanjutkan pada malam harinya pk 20.00 - 05.00

Wayang golek Kebumen dipertunjukkan untuk upacara perhelatan seperti khitanan, pernikahan, kelahiran dan sebagainya, juga dipertunjukkan dalam rangka upacara tradisi desa bersih dusun, dan acara-acara pemerintah.

Cerita Wayang Golek Kebumen

Cerita Menak di Jawa paling awal diperkirakan berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Mataram (1613 - 1645), dari sumber Melayu diperkirakan bahwa penulisan Menak terjadi pada abad XV dan XVI. Hal ini didasarkan pada penggunaan kata Menak Jingga dalam Serat Damarwulan, dalam sastra jawa pertengahan, yaitu sastra kidung, telah terdapat kata menak yang berarti berbudi luhur, mulia, tampan dsb. Hal ini dapat diperkirakan bahwa penulisan dari sumber Melayu kemungkinan dibuat pada abad XV atau XVI.

Cerita menak tersebut luas dikenal melalui saduran R.Ng Yasadipura I, Ia mendasarkan karyanya pada versi Kartasura tulisan Ki Carik Narawitan. Tulisan-tulisan yang dianggapnya masih sederhana kemudian dikembangkan oleh R. Ng Yasadipura I dengan perluasan-perluasan, dan penambahan-penambahan, kendati demikian garis besar cerita masih sangat dekat dengan sumber cerita Melayu.

Balai Pustaka mencetak cerita Menak dalam tulisan Jawa berdasarkan naskah versi macapat antara th 1933 s/d 1941 M dari teks Yasadipura I dalam 24 bagian (46 jilid) Bagian-bagian tersebut masing-masing diberi nama berdasarkan tokoh utama atau tempat yang paling penting, yaitu:
1. Menak Sareh. 13. Menak Kandhabumi
2. Menak Lare 14. Menak Kuwari
3. Menak Srandhil 15. Menak Cina
4. Menak Sulub 16. Menak Malebari
5. Menak Ngajrak 17. Menak Purwakanda
6. Menak Demis 18. Menak Kustub
7. Menak Kaos 19. Menak Kalakodrat
8. Menak Kuristam 20. Menak Sorangan
9. Menak Biraji 21. Menak Jamintoran
10 Menak Kanin 22. Menak Jaminambar
11 Menak Gandrung 22. Menak Talsamat
12 Menak Kanjun 23. Menak Lahat

Dari cerita-cerita tersebut diatas oleh dalang wayang golek Kebumen diolah menjadi lakon wayang golek menurut kemampuan masing-msing dalang membuat struktur adegan dan membuat sanggitnya. Untuk itu tidak jarang terjadi dalam satu judul lakon yang sama dengan dalang yang berbeda akan berbeda pula garap adegan ataupun sanggitnya.

Sindu Jataryana seorang dalang dari Mirit yang pernah mendapat tempat di hati masyarkat pendukung wayang golek di Kebumen dan sekitarnya pernah menggelar lakon yang tidak terdapat dalam bagian-bagian lakon menak seperti;
1. Ngembajati 10. Rasakusuma Takon Bapa
2. Dewi Nawangwulan 11. Kendhit Brayu
3. Dewi Mandhaguna-Mandhagini 12. Ganggakesuma Takon Bapa
4. Mandarpaes 13. Dewi Sri
5. Jayengrana Wayuh 14. Umarmaya Kembar
6. Gendreh Kemasan 15. Menak Sathit
7. Bambang Sekethi Lahir 16. Jayengrana Kembar
8. Ganggamina-Ganggapati 17. Iman Suwangsa Kembar
9. Imanjaka Takon Bapa 18. Kadarwati Ranjam
19 Pernah menyusun lakon yang bersarkan atas peristiwa orang bunuh diri dengan kereta api.
Lakon ini diminta khusus oleh penanggapnya.

Daerah Jawa mengenal adanya lakon-lakon yang tabu untuk dipergelarkan, karena beranggapan apabila mempergelarkan lakon tersebut akan mendapatkan petaka. Demikian halnya dengan pergelaran wayang golek menak di Kebumen ada beberapa lakon menak yang ditabukan seperti;
a. Umarmaya Ngemis
b. Menak Jaminambar
c. Menak laka
d. Bestak Bencek dan lain-lain

Sindu Jataryana adalah seorang dalang yang mengalami masa kejayaan di tahun 50 sampai dengan awal 80-an. Banyak peristiwa yang mendukungnya diantaranya:
a. Dalam rangka festival wayang Golek di Pekalongan tahun 1976.
b. Dalam rangka studi banding dengan wayang golek cepak dengan dalang Ki Ali Wijaya di Sragi tahun 1977.
c. Dalam rangka studi banding wayang menak di Jakarta tahun 1978.
d. Mendapat anugrah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nugraha Notosusanto).

Pergelaran Wayang Golek Menak di Kebumen

Pertunjukan wayang golek menak di Kebumen dilaksanakan pada siang dan malam yang memerlukan rentang waktu 6 sampai 8 jam. Siang hari dipergelarkan dari pukul 11.00 hingga 17.00, sedangkan pada malam hari pada pukul 21.00 hingga 05.00 yang masing-masing terbagi menjadi 3 (tiga) bagian pathet yaitu pathet nem, pathet sanga, dan Manyura. Sebelum pergelaran dimulai biasanya didahului dengan konser gendhing.

Iringan yang mendukung jalannya pertunjukan dengan menggunakan perangkat gamelan ageng slendro, dan pelog, tetapi gendhing-gendhing dan sulukan iringan wayang golek menak Kebumen mempunyai lagu khusus tidak seperti iringan wayang kulit gaya Yogyakarta atau Surakarta. Terutama pada lagu sulukan dan srepeg yang digunakan sebagai iringan baku wayang golek Kebumen. Masing-masing srepeg mempunyai lagu, dan kegunaan yang berbeda sesuai dengan Kebutuhan masing-masing adegan sebagai contoh; Srepeg Kembang jeruk nem digunakan sebagai Srepeg baku pada bagian pathet nem, Srepeg Kembang Jeruk Prang khusus digunakan pada adegan perang pada bagian pathet nem, Srepeg Kawosempal digunakan khusus untuk mengiringi adegan suasana sedih, untuk adegan perang pada bagian pathet sanga diiringi dengan Srepeg Rujak Beling pathet sanga, Srepeg semarangan digunakan untuk srambahan perjalanan tokoh gagah dan tokoh halus yang masing-masing mempunyai lagu sendiri-sendiri. Srepek Rujak beling pathet manyura digunakan khusus sebagai iringan perang pada bagian pathet manyura, Srepeg Bribil Buntung digunakan apabila ada tokoh putri yang berperang, Srepek Adhuh-adhuh sebagai iringan baku pada bagian pathet manyura, dan Godril Ladrang digunakan sebagai iringan perang tokoh gecul.

struktur adegan pada pergelaran wayang golek Kebumen menyesuaikan dengan lakon yang dipergelarkan. Tetapi pada awal pergelaran dapat dipisahkan selalu diawali dengan Jejer I, dengan diiringi Bondhet, gendhing kethuk kalih kerep, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan janturan adegan, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan Janturan adegan, dilanjutkan dengan Monggang Sekaten cengkok Kebumen untuk mengiringi tampilnya tokoh raja.

Tampilnya tokoh raja gagah dengan tarian kiprah biasa diiringi dengan Bendrong , lancaran.

Pergelaran wayang golek menak Kebumen tidak terdapat struktur adegan gara-gara seperti halnya wayang kulit, tetapi juga mengenal tokoh punakawan baku bernama Jiweng sebagai pamomong tokoh-tokoh protagonis seperti Iman Suwangsa, Umarmaya, Jayengrana, Jayusman dan lain sebagainya.

Perkembangan Pergelaran

Perjalanan waktu akan mendorong adanya perubahan terhadap sesuatu, demikian juga yang dilakukan oleh beberapa dalang wayang golek di Kebumen, seniman dalang tersebut mencoba mengadakan perubahan-perubahan dalam usaha mempopulerkan kembali pergelaran wayang golek menak Kebumen. Seniman dalang berharap akan wayang golek dapat menjadi pertunjukan yang elastis, dapat berdialog dengan masyarakat, mampu menampung aspirasi penggemarnya.

Tetapi usaha-usaha yang dilakukan masih sangat terbatas pada kulitnya saja belum dapat menyentuh pada esensi wayang golek menak itu sendiri. Sebagai contoh dengan di tambahkan adegan Limbukan yang mengalunkan lagu-lagu dangdut, dan campur sari, demikian juga pada bagian pathet sanga ditampilkan Jemblung Marmadi, dan Jiweng sebagai pengganti adegan gara-gara.

Minat Penonton

Masyarakat pendukung wayang golek Kebumen pada saat ini tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang cerita Menak. Lain halnya apabila dibandingkan dengan masyarakat pendukung wayang kulit, cerita Mahabarata dan Ramayana. Ujud dari tokoh wayang menak khususnya wayang golek tidak akrap dengan penonton, di samping itu wayang golek tidak dapat dilihat dari jarak jauh secara jelas. Lain halnya dengan wayang kulit yang dapat dilihat dari jarak 40 sampai 50 meter, sedangkan wayang golek dari jarak 15 meter saja sudah agak kabur kejelasan wajahnya.

Pada saat ini tugas dalang wayang golek tidak hanya menampilkan dramatisasi cerita saja, tetapi harus mengenalkan cerita menak, karakternya tokoh dan ujud dari tokoh yang ditampilkan. Lain halnya dengan masyarakat yang menonton wayang kulit. Sebagai contoh; dalang menampilkan tokoh Bima, masyarakat sudah tahu bagaimana karakter Bima, bagaimana Jalannya Bima, siapa saja anaknya Bima dan lain sebagainya.

Minat masyarakat untuk menonton wayang golek pada saat ini tidak seperti pada tahun 60 sampai dengan awal 80-an, karena tinggal generasi tua yang pernah ikut menyaksikan masa kejayaan wayang golek menak tempo dulu. Dimasa kejayaan dalang Dindu Jataryana dan dalang seangkatannya yang mampu mengangkat pertunjukan wayang golek Menak menjadi tontonan masyarakat yang membanggakan. Masyarakat mempunyai harga diri yang lebih apabila mempunyai hajad dengan menanggap wayang golek

Kendala Pertunjukan Wayang Golek Menak Kebumen

Cerita-cerita menak yang beredar di daerah Kebumen dan sekitarnya, setelah almarhum Sindu Jataryana surut sudah tidak akrab lagi dengan masyarakat generasi pendukung pergelaran wayang golek menak di Kebumen, sehingga masyarakat yang menonton wayang golek harus belajar tentang cerita menak, belajar mengenal tokoh-tokoh wayang golek menak, belajar mengenal karakternya dan sebagainya. Sedangkan masyarakat penonton wayang golek tidak semuanya ingin mengetahui jalannya cerita, tetapi ada yang ingin bermain, melihat suasana, cari hiburan untuk melepas kepenatan hidupnya dan sebagainya.

Seorang dalang wayang golek menak diharapkan untuk dapat menari, bercerita, menguasai gendhing, dan gerak bela diri seperti pencak silat dan sejenisnya. Dalang yang akan mempunyai kemampuan 4 hal seperti yang disebutkan sebelumnya akan mengurangi bobot seorang dalang wayang golek. Sedangkan untuk menguasai hal tersebut tidaklah mudah, akibatnya banyak generasi dalang wayang golek yang menekuni wayang kulit, apabila tanggapan pergelaran wayang golek pada saat ini sangat jarang.

Sebagai masyarakat di wilayah tertentu saat ini masih ada yang beranggapan bahwa mengadakan pertunjukan wayang golek itu tabu, bahkan akan mendatangkan malapetaka bagi wilayah tersebut atau penanggapnya, sehingga pada saat ini ada wilayah yang masyarakatnya belum pernah melihat secara langsung pertunjukan wayang golek.

Preman-preman daerah yang memalak orang yang mempunyai hajad juga menjadi kendala bagi anggota masyarakat yang akan mengadakan pertunjukan/penanggap. Hal tersebut membebani anggota masyarakat, karena apabila anggota masyarakat akan mengadakan pertunjukan paling tidak harus mendatangkan aparat kepolisian setidak-tidaknya satu kijang, pada hal untuk mendatangkan aparat juga mengeluarkan dana. Apabila tidak mendatangkan aparat kepolisian kemungkinan besar pertunjukan wayang golek dimana dipergelarkan menjadi ajang joged dan mabuk-mabukan semalam suntuk. Peristiwa ini beberapa kali terjadi, pengrawit bubar meninggalkan intrumen gamelan yang ditabuh karena ada penonton yang naik panggung dengan membawa senjata tajam diacungkan. Betapa mengerikan.
Read More